fbpx
Kamis, 22 April 2021

SBY Merasa ‘Bersalah’ Kepada KSP Moeldoko

Gemapos.ID (Jakarta) – Ketua Majelis Tinggi Partai (MTP) Partai Demokrat (PD) Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) merasa bersalah. Pasalnya, dia pernah memberikan kepercayaan dan jabatan Kepala Staf Kepresiden (KSP) Moeldoko ketika dirinya sebagai presiden keenam RI.

“Banyak yang tercengang dan tidak percaya bahwa KSP Moeldoko bersengkongkol, tega, dan dengan darah dingin melakukan kudeta,” kata SBY dalam konferensi pers di Puri Cikeas, Jumat (5/3) malam.

Beritalainnya

SBY kecewa dengan tindakan Moeldoko yang dinilai tidak kesatria lantaran bersekongkol dengan internal Demokrat. Moeldoko melakukan kudeta atas kepemimpinan Ketua Umum  (Ketum) DPP Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

Perebutan kepemimpinan yang tidak terpuji tersebut jauh dari sikap kesatria dan nilai moral, serta mendatangkan rasa malu bagi seorang yang pernah aktif sebagai prajurit TNI.

Beberapa kali memberikan kepercayaan dan jabatan kepada Moeldoko. “Saya mohon ampun kepada Allah Swt. atas kesalahan saya itu,” ujarnya.

SBY mengatakan KLB PD ilegal telah menobatkan Moeldoko sebagai Ketum DPP PD yang merupakan pejabat pemerintahan aktif dan berada di  lingkaran lembaga Kepresidenan dan bukan kader Demokrat.

Dia menceritakan sebulan lalu Ketum DPP Partai Demokrat AHY secara resmi mengirim surat kepada Presiden Jokowi tentang keterlibatan KSP Moeldoko dalam gerakan penggulingan kepemimpinan Demokrat yang sah.

Kemudian, AHY sampaikan kepada publik terkait dengan kudeta, banyak tanggapan bernada miring. PD dinilai mencari sensasi, playing victim

Selanjutnya, Moeldoko mengatakan hanya ngopi-ngopi dan pelaku gerakan itu katakan hanya rapat biasa,” katanya. Sebulan lalu ada yang mengatakan bahwa Moeldoko pasti mendapatkan sanksi atas tindakannya itu, KLB ilegal pasti tidak mendapatkan izin dan akan dibubarkan pihak kepolisian.

“Saat ini KLB tersebut benar-benar terjadi dan Moeldoko merebut kepemimpinan Demokrat yang sah,” ujarnya.

3
SHARES
19
VIEWS

Related Posts

Terkini