Akibat Persediaan AS Melonjak, Harga Minyak Turun Pada Awal Perdagangan Asia

Ilustrasi: Tambang Minyak Mentah
Ilustrasi: Tambang Minyak Mentah

Gemapos.ID (Jakarta) - Harga minyak turun pada awal perdagangan Asia, Kamis pagi, setelah data industri menunjukkan peningkatan besar tak terduga dalam stok minyak mentah AS untuk minggu kedua, mempertinggi kekhawatiran penurunan permintaan bahan bakar.

Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS tergelincir 86 sen atau 1,1 persen, menjadi diperdagangkan di 78,62 dolar AS per barel pada pukul 01.09 GMT. Minyak mentah berjangka Brent merosot 73 sen atau 0,9 persen, menjadi diperdagangkan di 84,25 dolar AS per barel, memperpanjang kerugian sekitar 1,0 persen sesi sebelumnya.

Pasar melemah di tengah kekhawatiran tentang kemerosotan ekonomi AS yang membayangi setelah pejabat Federal Reserve mengatakan suku bunga perlu naik melampaui 5,0 persen untuk mengendalikan inflasi, bahkan setelah data menunjukkan penjualan ritel turun lebih dari yang diharapkan pada Desember.

"Hal ini meningkatkan momok resesi, dengan konsekuensi menderitanya selera risiko," kata analis ANZ Research dalam catatan klien.

Menambah kerugian, data dari American Petroleum Institute (API) menunjukkan persediaan minyak mentah AS naik sekitar 7,6 juta barel dalam pekan yang berakhir 13 Januari, menurut sumber pasar. Padahal, sembilan analis yang disurvei oleh Reuters memperkirakan rata-rata persediaan minyak mentah turun sekitar 600.000 barel.

Peningkatan besar persediaan minyak AS menandai minggu kedua berturut-turut. Namun, pada catatan bullish, stok sulingan, yang meliputi solar dan minyak pemanas, turun sekitar 1,8 juta barel terhadap ekspektasi analis untuk kenaikan 120.000 barel.

Laporan API ditunda satu hari karena libur umum pada Senin (16/1/2023) untuk memperingati Hari Martin Luther King di Amerika Serikat. Badan Informasi Energi pemerintah akan merilis laporan inventaris mingguannya pada Kamis waktu setempat.

Dengan kenaikan suku bunga yang agresif masih terjadi, dolar AS naik, semakin membebani permintaan minyak, karena greenback yang lebih kuat membuat komoditas lebih mahal bagi mereka yang memegang mata uang lainnya.(pa)